Join VSI Disini

SUPPORT VSI
Showing posts with label Gagasan. Show all posts
Showing posts with label Gagasan. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Hindari Bilang "Jangan Nakal"

Kamis, 24 Oktober 2013

BANYAK orang tua yang terbiasa mengatakan kata "nakal" secara langsung kepada anaknya yang kecil ketika mereka bertindak menyeleweng atau membahayakan. Perlu dipahami bahwa kata-kata yang diucapkan kepada anak akan langsung dicerna oleh otak anak yang sedang dalam perkembangan. Mereka bisa tersugesti.
Saat saya mengatakan : jangan membayangkan seekor kodok. Bisa saya pastikan, justru pikiran kita langsung membayangkan seekor kodok. Nah, sama dengan ketika orang tua melarang anaknya dengan perkataan "jangan nakal". Maka kata "nakal" itulah yang justru lebih teringat oleh anak meskipun kata depannya adalah "jangan".
Akan lebih bijak jika melarang anak dengan menggunakan perkataan : jangan begitu, itu tidak baik. Dengan perkataan seperti itu, kata "baik" yang ada dalam perkataan itu akan lebih diingat oleh anak dan bisa sekaligus menjadi sugesti kepada anak untuk melakukan perbuatan yang baik. Mari, hindari kata bermakna negatif.

Pengirim : AL MAHFUD, mahasiswa Tarbiyah STAIN Kudus, aktivis Pers Mahasiswa Paradigma. ( el13shines@gmail.com )

Kalender Wajah Koruptor

Rabu, 23 Oktober 2013

BUKAN semata tanggungjawab KPK memerangi korupsi. Dibutuhkan kerjasama dari seluruh kalangan dengan cara masing-masing. Momentum menjelang akhir tahun ini dapat pula digunakan untuk memerangi korupsi. Caranya membuat kalender koruptor. Wajah para koruptor menjadi ikon utama dalam kalender itu. Hal tersebut perlu dilakukan untuk memberikan efek jera berupa mempermalukan para koruptor.
Karena saking banyaknya pejabat korup, perlu dibuat kalender regional. Artinya, gambar yang dipasang adalah wajah si koruptor dan diedarkan dimana dia tinggal. Selama setahun dia akan dipermalukan. Dengan begitu, semoga para koruptor kapok dan mereka yang akan melakukan korupsi membatalkan niatnya.

MANSATA INDAH DWI UTARI, Guru SMP Assalam Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, ( tary_mansata@yahoo.co.id )

Link : http://opinigagasanjawapos.blogspot.com/2013/10/kalender-wajah-koruptor.html

Tuesday, October 22, 2013

Dasar Per Kapita Gaji Wakil Rakyat

Selasa, 22 Oktober 2013

SESUAI dengan namanya, wakil rakyat seharusnya benar-benar menjadi wakil rakyat di dalam mengontrol jalannya roda pemerintahan maupun memperjuangkan nasib rakyat. Agar mereka benar-benar memperjuangkan nasib rakyat, diperlukan dorongan / semangat yang kuat.
Penghasilan / gaji yang diukur dengan standar gaji pejabat eksekutif rasanya tidak pas dan tidak mewakili rakyat. Maka dari itu, gaji wakil rakyat hendaknya mengacu kepada pendapatan per kapita rakyat. Misalnya 500 persen dari pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Kalau pendapatan perkapita nasional USD 3.592 (2012), maka pantasnya ya USD 17.960 atau sekitar Rp. 180 juta per tahun.
Demikian juga wakil rakyat di daerah, hendaknya juga mengacu pada pendapatan per kapita penduduk daerah setempat. Dengan demikian, para wakil rakyat akan benar-benar berjuang agar pendapatan per kapita rakyat meningkat yang akan berimbas pada pendapatan mereka.

Pengirim :  
ANANG DWI SAPUTRO, Kedungsigit, Karangan, Trenggalek ( dwisaputroanang@gmail.com )

Saturday, October 12, 2013

Berkurban dalam Kehidupan

Jawapos, Sabtu, 12 Oktober 2013

Bulan Dzulhijjah sudah datang, musim Haji juga sudah tiba. Kemudian, apa yang dilakukan mereka yang tidak mampu berkurban sapi atau kambing? Atau, Apakah berkurban hewan itu sudah cukup?
Selain berkurban seperti sunah Rasul, perlu dilanjutkan dengan pengorbanan sehari-hari. Bila seorang guru atau pejabat, alangkah baiknya mereka mengorbankan pribadinya untuk disiplin dalam kerja, tepat waktu dan tidak menyalahgunakan amanah yang sudah diberikan. Jika seorang pengusaha atau pedagang, sebaiknya berdagang secara baik, jangan merugikan salah satu pihak. Jika seorang tokoh, perlu menularkan keteladanan, bukan sekedar bicara.
Berkurban pada intinya merelakan atau mengorbankan pribadinya, menahan diri, untuk kepentingan, kemakmuran, kemaslahatan, dan kebaikan orang lain, bukan mengorbankan orang lain untuk kepentingan pribadi dan golongan masing-masing.
Berkurban juga memberikan yang terbaik, bukan asal baik. Intinya, berikan yang terbaik atau tidak sama sekali.

Pengirim : WIYONO, Guru Al Izzah, International Islamic Boarding School Batu, Jawa Timur, ( wiyonodp@ymail.com )

Sunday, July 28, 2013

Pesta Impor, Mana Sapi Lokal ?

Senin, 29 Juli 2013

BIASANYA masyarakat kita sangat latah dengan barang impor. Daging impor pun akhirnya didatangkan ke Indonesia demi mencukupi kebutuhan. Namun, ternyata hal itu menimbulkan kontroversi haram dan halal. Menteri perdagangan Gita Wiryawan melalui wawancaranya di MetroTV Rabu malam mengatakan, daging dari Australia tersebut halal. Tentu saja masyarakat tidak sepenuhnya menerima keputusan itu. Lagi pila, daging tersebut sudah tidak segar, kasip. Penolakan daging impor itu pernah terjadi di pasar daging Wonokromo, Surabaya, Sabtu (20/7) oleh para pedagang.
Saya yakin di negara Indonesia banyak sekali peternak sapi, baik pribadi maupun kelompok. Alangkah baiknya pemerintah bersikap arif dan bijaksana dengan tetap mengedepankan produk atau barang ( dalam hal ini hewan ) sendiri. Alokasikan APBN maupun APBD untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan membeli hewan-hewan ternak milik masyarakat, kemudian menjualnya ke pasar dengan harga normal / standar. Kalaupun harus impor, yang diimpor bukan dagingnya yang sudah kasip, namun didatangkan saja sapinya ke Indonesia. Jadi, pemotongan tetap dilakukan di Indonesia untuk bisa memastikan juga halal atau haram.

Pengirim : PETRUS PURWANTA, Guru SMAK St Hendrikus Surabaya, ( petrusprambanan@ymail.com )

Komentar : 
Jadi kangen ama jaman Pak Harto yang giat mewacanakan swasembada beras, swasembada pangan, swasembada daging serta swasembada lainnya melalui program REPELITA nya.
Kondisi inilah yang memicu segelintir orang untuk mewacanakan sosialisasi baik berupa stiker maupun desain kaos dan juga desain di back Truck.
"Piye kabare Broo... Iseh penak jamanku Tho?"... dengan backup gambar Pak Harto yang terkenal dengan "Smiling General" nya.

Saturday, May 11, 2013

Beginilah Rasanya Kena Bully

Sabtu, 11 Mei 2013

KETIKA saya masih SD, 12 tahun yang lalu, saya merupakan korban bullying. Sakitnya masih terasa sampai saat ini. Bully di sekolah yang saya alami sangat parah. Dari siswa kelas I sampai kelas VI, tidak ada yang berani jadi teman saya. Hal ini disebabkan saya bermasalah dengan teman yang sok jagoan di SD. Sehingga, siapa pun yang berteman dengan saya diancam dan akan menerima anak Bully ( Perlakuan buruk ) yang sama.
Kegiatan saya di sekolah sangat membosankan, tidak ada gairah untuk pergi ke sekolah, serasa masuk pengasingan. Ditambah lagi di sekitar rumah, setiap lewat ada saja yang meneriaki saya. Entah kurang kerjaan atau memang lagi stres. Untuk memperbaiki mental, setelah tamat SD, saya melanjutkan ke SMP yang lebih favorit daripada SMP tepat di sebelah rumah. Orang lain beranggapan saya mencari sekolah yang lebih baik, namun tujuan utama saya memperbaiki mental.
Mungkin pelaku bully menganggap lucu bisa menertawakan dan menyudutkan orang lain. Tetapi, sebagai siswa perempuan korban bullying, rasanya sangat menyedihkan, sampai 12 tahun belum bisa hilang efeknya. Tolong guru atau orang tua beri perhatian untuk mencegah bully.

Pengirim :  PELITA HATI ( nama samaran ), Mahasiswi di Malang Asal Blitar.

Tanggapan :

Stop bullying di sekolah ! 

Bullying merupakan suatu kejadian yang seringkali tidak terhindarkan terutama di sekolah. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, suatu perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman. Seseorang yang bisa dikatakan menjadi korban apabila dia diperlakukan negatif (secara sengaja membuat luka atau ketidak nyamanan melalui kontak fisik, melalui perkataan atau dengan cara lain) dengan jangka waktu sekali atau berkali-kali bahkan sering atau menjadi sebuah pola oleh seseorang atau lebih.

Bullying seringkali terlihat sebagai bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ‘kuat’. Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah.


Contoh perilaku bullying antara lain:

Kontak fisik langsung (meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar, mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual).

Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).

Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

Bullying tidak selalu berlangsung dengan cara berhadapan muka tapi dapat juga berlangsung di belakang teman. Pada siswa, mereka menikmati saat memanggil temannya dengan sebutan yang jelek, meminta uang atau makanan dengan paksa atau menakut-nakuti siswa yang lebih muda usianya. Sementara siswi melakukan tindakan memisahkan rekannya dari kelompok serta tindakan lainnya yang bertujuan menyisihkan individu lainnya dari grup, dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang.

Pelaku bullying mulai dari; teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Lokasi kejadiannya, mulai dari; ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah.


Dampak perilaku bullying.

Tidak semua korban akan menjadi pendukung bullying, namun yang paling memprihatinkan adalah korban-korban yang kesulitan untuk keluar dari lingkaran kekerasan ini. Mereka merasa tertekan dan trauma sehingga mempersepsikan dirinya selalu sebagai pihak yang lemah, yang tidak berdaya, padahal mereka juga asset bangsa yang pasti memiliki kelebihan-kelebihan lain.

Bagaimana anak bisa belajar kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Sehingga amat wajar jika dikatakan bahwa bullying sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri,


Pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying.

Semua orang bisa menjadi korban atau malah menjadi pelaku bullying. Diperlukan Kebijakan menyeluruh yang melibatkan seluruh komponen sekolah mulai dari guru, siswa, kepala sekolah sampai orang tua murid, yang tujuannya adalah untuk dapat menyadarkan seluruh komponen sekolah tadi tentang bahaya terselubung dari perilaku bullying ini.

Kebijakan tersebut dapat berupa program anti bullying di sekolah antara lain dengan cara menggiatkan pengawasan, pemahaman konsekuensi serta komunikasi yang bisa dilakukan efektif antara lain dengan Kampaye Stop Bullying di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop bertemakan stop bulying. Kesemuanya ini dilakukan dengan tujuan paling tidak dapat meminimalisir atau bahkan meniadakan sama sekali perilaku bullying di sekolah.

Diharapkan dengan adanya kebijakan itu sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan dan membuat trauma tapi justru menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi siswa, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial ataupun emosinal. Sekolah dapat menjadi tempat yang paling aman bagi anak serta guru untuk belajar dan mengajar serta serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Bukan malah sebaliknya mencetak siswa-siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman.
 

Perlu Hari Majikan Nasional

Jum'at 10 Mei 2013

TANGGAL 1 Mei setiap tahun diperingati sebagai Hari Buruh Nasional. Pada umumnya, ketika hari tersebut, banyak buruh yang berdemonstrasi dengan mengajukan tuntutan-tuntutan. Tuntutan yang disampaikan adalah tentang gaji dan kesejahteraan buruh. Banyak diantara mereka yang menganggap gaji yang diterimanya masih kurang untuk mencukupi kehidupannya bersama keluarga.
Sejatinya mengenai kesejahteraan buruh jelas pihak yang terlibat adalah majikan. Mereka sebagai subjek utama yang memperkerjakan serta menggaji buruh. Namun, jika semua buruh menuntut majikan, seakan-akan majikan berada pada pihak yang salah. Menyikapi itu, perlu diadakan pula Hari Majikan Nasional sebagai tempat para majikan menjawab tuntutan buruh serta menuntut balik buruh atas kerjanya yang mengkin dianggap tidak kompeten. Dengan begitu, akan terjadi keseimbangan diantara keduanya.

Pengirim : NAFISATUL HUSNIAH, Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Dakwah, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tanggapan :
  1. Tanggal 1 Mei adalah Hari Buruh Sedunia.
  2. Pada awalnya May Day tanggal 1 Mei 1886 sekitar 400.00 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan Jam Kerja mereka menjadi 8 Jam Sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Jadi tuntutannya bukan tentang Gaji.
  3. Adil tidak harus sama rata sama rasa. Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya ( Kebutuhannya ).
  4. Kalo ada Hari Buruh, kemudian harus ada Hari Majikan. Nanti ada Hari Ibu, kemudian harus ada Hari Bapak. Hari Anak, harus ada Hari Eyang.
  5. Tuntutan Gaji sesuai UMR adalah untuk Buruh Pabrik, bukan untuk semua karyawan. Seandainya Warung Gorengan, punya 1 karyawan, trus menuntut Gajinya pake UMR tidak PAS.

Wednesday, May 8, 2013

Konkret Cintai Produk Nasional

Kamis, 09 Mei 2013

INILAH cerita suami saya. Dalam rangka persiapan sebuah proyek, suami berdua dengan atasannya yang warga negara Jepang berbelanja berbagai kebutuhan untuk mes karyawan. Alhasil, semua barang, mulai televisi, kulkas, AC, bahkan setrika, yang pasti pembantulah yang akan memakainya, diharuskan bermerek Jepang. Demikian juga sarana transportasi dan kebutuhan lain, jika ada, semua harus serba Jepang.
Saya berpikir, seandainya saja bangsa Indonesia mau seperti itu, tentu negara kita bisa jauh lebih baik daripada sekarang. Perekonomian kita pasti lebih maju jika produk dalam negeri merajai pasar negeri sendiri.
Kejadian itu menjadi contoh nyata bagi saya agar lebih bersemangat mengajak anak-anak untuk mencintai negeri sendiri. Mengapa memilih ayam goreng waralaba Amerika, jika makanan tradisional Indonesia lebih beragam dan kaya rasa? Mengapa memilih pakaian bermerek luar negeri yang sangat mahal, sementara ada batik yang kini kian indah corak maupun modelnya? Mengapa harus menonton konser artis luar negeri yang belum tentu memperbaiki moral anak bangsa, sementara tarian dan lagu daerah sarat makna dan nilai kehidupan? Ayo, kita mulai dari diri kita, sekarang!

Pengirim : LAILA MASRURO, anggota IIDN ( Ibu-Ibu Doyan Nulis ) Jabodetabek, Cilangkap, Tapos, Kota Depok.

 Tanggapan :
  1. Coba disebutkan produk Indonesia yang berkualitas untuk : Televisi, Kulkas, AC, setrika.
  2. Harga ayam goreng Indonesia per potong bisa mencapai Rp. 10.000. Ayam goreng waralaba harganya tidak sampai Rp. 10.000. Gerainya bersih, disediakan tempat duduk & meja bersih, ruangan ber AC, disediakan sambal, saos gratis, disediakan tempat cuci tangan bagus, Ruangan Full Music dan LED TV.
  3. Coba sebutkan pakaian merek Indonesia yang mampu memenuhi selera kaum borjuis.
  4. Nonton konser Musik Indonesia belum bisa memnuhi rasa haus penikmat musik kelas borjuis.
Kesimpulan :
  1. Masyarakat Indonesia sekarang butuh sebuah opsi ( pilihan ) untuk bisa menandingi produk luar negeri.
  2. Indonesia masih memerlukan lebih banyak lagi perjabat sekelas Dahlan Iskan dan Jokowi.  Yah minimal ada 50% saja menteri di kabinet yang sekelas Dahlan Iskan. dan 50% Gubernur se Indonesia sekelas Jokowi. Dan Presidennya 10 tingkat diatas Dahlan Iskan dan Jokowi.  

Perlu Dibentuk KPK di Kampus

Rabu, 8 Mei 2013

MERUJUK berita Jawa Pos (3/5), anak muda cenderung memilih "berdamai" dengan jalan korupsi. Padahal, mahasiswa kerap dimuliakan sebagai agen perubahan bagi sebuah negara. Ternyata, dari kampus, kita bisa mengerti banyak hal, termasuk belajar tentang korupsi. Bukan berarti secara eksplisit itu diajarkan. Hanya mahsiswa tertentu yang mendapatkan pembelajaran menjalankan korupsi, terutama sebagian mahasiswa yang bergerak di dalam organisasi kampus.
Di sini yang perlu disorot adalah organisasi kampus yang langsung berhubungan dengan sistem "pemerintahan" kampus, yakni HM ( Himpunan Mahasiswa ) atau BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa ). Mestinya, tempat itu jadi ajang latihan bernegara yang beradab. Memang, ada yang menggunakan cara yang benar, seperti mengadakan acara berbayar di kalangan mahasiswa, misalnya seminar atau lomba. Namun, ada yang menggunakan cara curang. Mengakali LPJ ( Laporan Pertanggungjawaban ) agar mendapat uang lebihan dari anggaran kampus memang sudah menjadi rahasia umum di dalam organisasi mahasiswa.
Sebaiknya, di semua kampus perlu dibentuk badan KPK ala kampus. Ini latihan memberantas korupsi juga. Tujuannya, negara ini tidak terus melahirkan mahasiswa berotak kancil ( dilansir dari kolom Gagasan, Jawa Pos, 3/5 ). Jika dibiarkan, dikhawatirkan setelah lulus, mereka lebih lihai dalam menggerakkan korupsi seperti dikisahkan di media-media.

Pengirim : ABU WAFA, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya ( Unesa )

Komentar admin :
  1. Ide ini terlalu berlebihan dan terlalu meng-generalisir 
  2. Selama nilainya masih dalam kewajaran, saya rasa masih bisa ditolerir. karena mahasiswa tidak digaji oleh kampus untuk menjadi "aktif" di kampus. Demi "menghidupkan" kampus mereka, tidak jarang mereka harus merogoh kocek mereka dulu. padahal mereka masih "dijatah" ortu.
  3. Sewaktu saya kuliah dulu, mengikuti kegiatan mahasiswa bisa dikatakan wajib. karena ada kredit pointnya sebagai salah satu syarat kelulusan. Itu berdasarkan "masukan" dari para alumni yang sudah bekerja di sebuah instansi. Dikatakan para alumni bahwa mereka yang sewaktu mahasiswa tidak aktif dalam organisasi mahasiswa, cenderung takut untuk menerima tawaran atau promosi jabatan sebagai minimal supervisor / manajer.
  4. Pembenahan negara ini bukan hanya dari manusianya saja, melainkan harus secara integral. Meliputi juga sistem yang dianut negara ini, Juga hukum di negara ini yang merupakan produk belanda. Sistem yang dianut negara ini adalah hasil copy paste dari negara lain.
Produk yang mantabz :

BLACKBERRY Z10 - Black

 

Monday, May 6, 2013

Jangan Nazar Gunduli Kepala


Selasa, 07 Mei 2013
 
GEJALA ini sudah lama terjadi saat ada hajatan politik. Banyak kontestan yang bernazar demi kesuksesan mereka. Namun, banyak nazar yang hanya digunakan buat happy-happy. Contohnya, bernazar menggunduli kepala. Apa susahnya nazar ini? Lagi pula tak terlalu relevan dengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Bersyukur kok rambut yang jadi korban.
Daripada bernazar menggunduli kepala atau nazar lain yang kurang bermanfaat, lebih baik nazarnya berupa tasyakuran dengan membagikan makanan matang atau sembako. Selain membagikan-bagikan berkah dengan bersedekah kepada para rakyat, kita mendapatkan pahala dari Yang Kuasa. Ditambah lagi, orang yang membayar nazar itu akan mendapatkan kasih saying karena telah mau berdekat-dekat dengan rakyat. Mari sayangi rambut dan sesame.

Pengirim : M. SALAMUN ASNGARI, Mahasiswa STAIN Ponorogo, Ponpes Darul huda, Tonatan, Ponorogo
 

Sunday, May 5, 2013

Jangan Corat-coret Tembok, Nak!

Senin, 6 Mei 2013

SANGAT banyak orang yang mengatakan dan menyarankan untuk membebaskan kreativitas anak. Termasuk membiarkan tembok dalam rumah menjadi penuh dengan coretan. Jika dibiarkan menumpahkan kreasi dan imajinasinya, anak-anak akan menjadi lebih cerdas.
Tapi, saya berpikir lain. Saya tetap melarang dengan tegas tapi lembut pada anak-anak saya ketika masih balita mencorat-coret tembok rumah kami. Bukan saya lebih sayang kepada tembok. Namun, sesungguhnya saya juga memikirkan pendidikan dengan cara itu. Saya ingin sejak dini mengenalkan anak-anak pada peraturan. Dalam perjalanan hidup, anak-anak nanti pasti selalu bertemu dan tidak bisa menghindar dari peraturan, baik yang dibuat manusia atau Tuhan, baik yang tertulis atau tidak tertulis.
Kalau mau mencorat-coret dan menggunting, saya sediakan kertas buram atau kertas bekas sebagai sarana. Agar mereka mengerti bahwa menulis atau mencoret itu tempatnya di buku, bukan di tembok. Lama-lama, mereka mengerti dan tidak pernah mencoret tembok rumah kami apalagi rumah orang lain. Bagi saya, kecerdasan yang tidak bisa dikendalikan dengan peraturan bisa salah jalan. Bisa-bisa, korupsi dianggap sebagai "kreativitas" yang cerdas, padahal culas.

Pengirim : ARIS SAYYIDATUL ILMI, anggota FLP ( Forum Lingkar Pena) Jombang dan IIDN ( Ibu-Ibu Doyan Nulis ) Jatim, Kedawung, Diwek, Jombang

Friday, May 3, 2013

Mendenda Pengencing Sembarangan

Sabtu, 04 Mei 2013

KETIKA saya mengantarkan turis asing melewati sebuah kawasan wisata religi di daerah Surabaya, tidak sengaja turis itu melihat suatu pemandangan yang sangat tidak elok. Padahal, daerah tersebut merupakan kawasan wisata religi. Mestinya para warga maupun wisatawan-wisatawan yang datang ke area tersebut lebih menjaga adab mereka. Saat itu, tepat di pinggir trotoar, ada seorang laki-laki yang kencing.
Dua orang turis yang saya antar tersebut sangat heran dengan apa yang baru saja mereka lihat. Di negara asal mereka, Belanda, maupun di negara-negara maju lain, pemerintahannya sangat tegas dalam memberlakukan sistem pemberian denda terhadap orang-orang yang berani kencing di sembarang tempat.
Saya yakin, Anda semua, khususnya perempuan, pasti sangatlah tidak senang melihat pemandangan seperti itu. Terlebih di tempat terbuka, seperti pinggir tol, kadang ada orang yang dengan cuek kencing, meski terlihat pelalu lintas. Padahal, toilet-toilet umum sudah ada dimana-mana.
Jelas perbuatan seperti itu pantas diharamkan karena merugikan lingkungan yang sangat berpengaruh pada kesehatan dirinya maupun orang lain. Bagi yang melihatnya dengan sengaja atau tidak sengaja, itu sudah termasuk "zina mata".

Pengirim : VIVI LINDAWATI, tour guide Surabaya Heritage Track.

Sumbangan Kematian di Jalan

Kamis, 2 Mei 2013

SERING kita jumpai, ketika ada tetangga yang kehilangan anggota keluarganya, orang-orang berinisiatif membantu mencarikan sumbangan. Dengan cara turun ke tengah jalan, mereka membawa bendera bersimbol palang hitam, disertai kardus/kaleng yang ditadahkan kepada setiap pengguna jalan yang melintas.
Berdasar pengalaman saya sebagai mantan penggalang sumbangan itu membantu secara gratis. Mereka kadang melakukan penggalangan tersebut tanpa izin keluarga almarhum dan biasanya tidak semua dari hasil donasi itu diberikan kepada mereka. Peminta sumbangan meminta sebagian hasilnya untuk "ongkos bensin".
Selain itu, meminta sumbangan di jalan jelas mengganggu kenyamanan lalu lintas. Lebih bermanfaat kalau kita bisa bergotong-royong membantu menggalikan liang lahat untuk jenazah. Jadi, keluarga tak perlu membayar ongkos penggalian terlalu banyak.

Pengirim : MUHAMMAD "EDO" FADLULLAH, Mahasiswa HI Universitas Brawijaya Malang

Hari, Ayo Demo Masak

Rabu, 1 Mei 2013

TANGGAL 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional berdasar Kongres Sosialis Dunia di Paris pada 1889. Sejak itu, Hari Buruh terbiasa diperingati dengan demonstrasi, terutama di Indonesia. Sayang, tak jarang demonstrasi yang ditujukan untuk memperjuangkan hak buruh berlangsung anarkistis dan merugikan pengguna jalan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dinamakan buruh adalah orang  yang bekerja kepada orang lain demi mendapat upah.
Yang patut disoroti, demo buruh selama ini hanya berkisar memperjuangkan UMK. Padahal, pengguna jalan yang dirugikan saat demonstrasi besar-besaran digelar bukan hanya buruh pabrik. Ada para kru kendaraan umum, petani, pedagang, guru sekolah swasta, guru sekolah negeri dan tenaga honorer, pekerja sosial yang penghasilannya tidak bergantung pada besaran UMK.
Awalnya May Day memperjuangkan hak buruh untuk bekerja sehari maksimal delapan jam. Sebab, sebelum demo besar pada 1886, buruh pabrik harus bekerja 12-15 jam sehari tanpa upah tambahan. Tak elok kalau peringatannya justru membuat banyak orang mendapatkan "repot tambahan" serta kehilangan nafkah. Cukup bijaklah pemerintah meliburkan saat May Day. Bisa saja demo di jalanan diganti dengan pelatihan demo masak atau latihan kewirausahaan yang tentu lebih bermanfaat bagi masa depan buruh untuk menghidupi keluarga jika tak lagi bekerja.

Pengirim : DWI APRILITANTI HANDAYANI, mantan buruh, anggota komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif Jawa Timur.

Tuesday, April 30, 2013

Rendam Kaki, Ngantuk Hilang

Selasa, 30 April 2013

HOOOAAAHMM... Begitulah yang sering saya alami setiap belajar di malam hari. Kantuk juga sering menyerang saat guru maupun dosen mengajar di kelas. Bila malam ngantuk, padahal banyak tugas kuliah, ini jelas jadi masalah. Bisa-bisa tugas-tugas tersebut tidak terselesaikan tepat waktu.
Saya teringat masa saya masih SMP. Ada guru yang menyarankan, sewaktu belajar di malam hari, apabila mengantuk, kita dapat merendam kaki di air. Air itu ditempatkan di baskom atau ember kecil. Ketika saya coba, akhirnya terbukti saya tidak mengantuk. Saya dapat mengerjakan tugas kuliah dengan tepat waktu.
Lalu, bagaimana kalau mengantuk di kelas? Tahan saja atau mengulum sedikit garam seperti yang pernah ditulis di rubrik ini. Rasanya ganjil kalau harus membawa ember atau baskom air ke kampus.

Pengirim : DEWEI KINTANI, mahasiswa Perikanan dan Kelautan Unair

Sunday, April 28, 2013

Kemilau Keramik dan Hidup Uje

Senin, 29 April 2013

SEPENINGGAL selebriti tapi ustad membuat dada semua yang mencintai sesak. Ustad Jeffry Al Buchori (Uje) mewariskan ajran ceramah kepada murid-muridnya. Semua harus bangun, tidak terus bersedih, dan perlu mengambil teladan seorang guru. Bukankah seorang Uje semula sempat mencoba narkoba, kemudian menjadi artis, selanjutnya beranjak naik, dan mendekati akhir hayatnya beliau sudah memberi cukup wasiat bahwa saatnya harus kembali kepada Sang Maha Kuasa. Beliau seolah sudah diberi tahu dari kebersihan dan keheningan rasa (bukankah ayat-ayat suci yang dibacakan dan dilantunkan adalah pengasah rohaninya).
Ibarat tanah liat tegalan akan menjadi keramik rendah, seperti gerabah, bata, genting, dibakar pada suhu 600 derajat Celsius. Untuk meningkatkan kualitasnya, keramik dibakar sampai derajat tinggi 1.200 derajat Celsius. Dia perlu berteman dan bergabung dengan bahan berderajat tinggi, seperti kaolin, feldspar, dan bahan tanah khusus. Meski menjadi keras seperti batu karena disatukan lewat dipadatkan dan digiling, egonya sudah tidak tampak lagi. Jadilah tea set, cangkir, piring nan kemilau, yang nilainya jauh lebih tinggi.

Pengirim : R. BAMBANG GATOT SUBROTO, subrotobambang11@yahoo.com

 

Asyiknya Naik Kereta Api Tut.. Tut...

Sabtu, 27 April 2013

SEJAK menjadi mahasiswa di semarang pada 2009, saya sering naik kereta api surabaya-semarang. Jika dulu kereta api rentan dengan copet, pengamen, penjual asongan, kotor, jorok dan bau, serta suasana berdesakan, sekarang tidak demikian lagi. Kondisinya semakin tertib. Tak ada penumpang yang berdiri. Mereka harus menunjukkan KTP. Jika kartu identitasnya tidak cocok, petugas akan menolak.
Petugasnya kebanyakan masih muda dan disiplin. Gerbong semakin bersih. Polisi khusus KA (polsuska) yang kebanyakan masih muda hilir mudik. Mereka memeriksa pintu-pintu gerbong dan memberikan rasa aman kepada penumpang.
Pelayanan pembelian tiket bisa dilakukan secara daring ( online ). Ini wujud kepedulian PT. KAI untuk mencegah masyarakat menjadi korban calo. Tekad tersebut benar-benar tak sebatas slogan dan jargon. Bahkan, tiket bisa dibeli di minimarket online modern yang tersebar hingga pelosok. Memang ada kenaikan harga tiket. Namun, itu lebih baik daripada karcis murah meriah, namun keretea kotor, tak aman, penumpang berjejal, dan rentan celaka.

Pengirim : ACHMAD MARZUKI, mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, Asal Bondowoso.

Saturday, April 27, 2013

Agar Kambing Pakde Tak Sia-Sia

Jum'at, 26 April 2013

BEBERAPA minggu lalu di Lumajang, salah satunya di Desa Yosowilangun Kidul, diadakan pembagian kambing kacang untuk rakyat kecil. Selain kambing, bantuan dari Gubernur Jatim Soekarwo atau Pakde Karwo itu berupa becak dan alat tukang. Semua diberikan kepada masyarakat miskin. Repotnya, pagi dibagi, "sore" sudah banyak yang berpindah tangan alias dijual. Sebenarnya tujuan Pemprov Jatim sangat baik, ingin memberdayakan masyarakat dengan cara memberikan pancing, bukan ikan. Tetapi, tanpa pendampingan, pancingnya pun dijual dan dibelikan ikan.
Agar efektif, berdayakan dulu masyarakat menengahnya. Misalnya, peternak kelas menengah yang punya beberapa puluh ekor kambing diberi bantual bibit unggul seperti merino atau domba garut. Setiap peternak mendapat 10 ekor dan harus mengembalikan 20-30 ekor blasteran. Ternak blasteran itu dibagikan ke tetangganya yang miskin untuk dipelihara. Dia bertanggung jawab untuk membimbing tetangganya tadi yang akan menjadi plasma. Bibit unggul tetap dipelihara peternak besar karena mereka mampu.
Dengan begitu, tercipta kerjasama dan solidaritas ekonomi yang bisa menaikkan taraf hidup masyarakat miskin sekaligus meningkatkan populasi ternak untuk mewujudkan swasembada daging.

Pengirim : dr. SIGIT SETYAWADI, Pensiunan dokter, mengembangkan peternakan-pertanian di Lumajang ( sigit_wealth@yahoo.co.id)